Abstrak RSS

Memanggungkan Pramoedya: Kekuatan Naskah, Akting, Dan Teknologi Dalam Pementasan “Bunga Penutup Abad” ( Performing Pramoedya: The Power Of Text, Acting, And Technology In The Staging Of “bunga Penutup Abad”)

Memanggungkan Pramoedya: Kekuatan Naskah, Akting, Dan Teknologi Dalam Pementasan “Bunga Penutup Abad” ( Performing Pramoedya: The Power Of Text, Acting, And Technology In The Staging Of “bunga Penutup Abad”)
Lina Meilinawati Rahayu, Aquarini Priyatna
Universitas Padjadjaran, Jurnal Sosioteknologi Penerbit ITB Vol. 16 No. 1 April 2017 ISSN : 1858-3474 E-ISSN: 2443-258X, DOI:http://dx.doi.org/10.5614%fsostek.itbj.2017.16.1
Bahasa Indonesia, Bahasa Inggris
Universitas Padjadjaran, Jurnal Sosioteknologi Penerbit ITB Vol. 16 No. 1 April 2017 ISSN : 1858-3474 E-ISSN: 2443-258X, DOI:http://dx.doi.org/10.5614%fsostek.itbj.2017.16.1
, , , , , , ,

Dengan menggunakan pemikiran Elam, artikel ini menunjukkan komunikasi teatrikal, yakni penataan panggung, berkontribusi terhadap keberhasilan suatu pementasan. Elam menekankan eksistensi komunikasi dalam setiap pertunjukan melalui perubahan panggung yang semula merupakan ruang yang kosong menjadi ruang yang diisi oleh “sesuatu yang tampak” dan “yang terdengar”. “Bunga Penutup Abad” adalah transformasi gabungan dua dari empat karya tetralogi Pramoedya Ananta Toer, yakni Bumi Manusia dan Anak Semua Bangsa. Ditampilkan di Jakarta dan Bandung, pementasan ini mengundang minat banyak penonton. Dengan menggunakan pendekatan yang diajukan Elam mengenai semiotika teater dan drama, apa yang tampak dan terdengar adalah apa yang “dibuat menjadi tampak dan terdengar”, yakni melalui naskah, akting, dan teknologi yang mentransformasi ruang kosong menjadi ruang yang bermakna. Komunikasi teatrikal ini memungkinkan penonton untuk terlibat dalam pementasan. Ketiga faktor ini menjadi penentu keberhasilan pementasan “Bunga Penutup Abad.” Lebih jauh lagi, keseluruhan proses dapat dianggap sebagai bentuk teknologi yang mentransformasi naskah menjadi pementasan.

Following Elam, this paper aims to prove that theatrical communication, namely the way the stage is organized, contributes to a strong perfomance. In analyzing the theatre, Elam emphasizes the existence of the communication in every performance the way in which the stage, which is originally an empty space, is transformed into a space lled with “something visible” and “something audible”. “Bunga Penutup Abad” is a joint transformation of two novels from Pramoedya Ananta Toer’s tetralogy: Bumi Manusia (Earth of Mankind) and Anak Semua Bangsa (Child of All Nations). Shown in two cities, Jakarta (August 2016) and in Bandung (March 2017), the performance attracted a good number of audience. Using the approach proposed by Elam on the semiotics of theatre and drama. we propose that what is visible and audible is actually what is “made visible and audible”, namely through the text, the acting, and the technology that transform the empty space into a meaningful space. This theatrical communication enabled the audience to be engaged in the performance. In the context of Bunga Penutup Abad, the three factors have shown to determine the success of the play. Furthermore, the whole process can be regarded as a form of technology that transform text into performance.

Download: .Full Papers