Abstrak RSS

KOMUNIKASI POLITIK LEGISLATOR PEREMPUAN (Studi Fenomenologi Legislator Perempuan di DPRD Propinsi Sulawesi Utara)

KOMUNIKASI POLITIK LEGISLATOR PEREMPUAN (Studi Fenomenologi Legislator Perempuan di DPRD Propinsi Sulawesi Utara)
Leviane J. H. Lotulung
Unpad
Indonesia
Unpad
, , ,

ABSTRAK

Penelitian ini bermula dari ketertarikan peneliti pada fenomena meningkatnya angka keterlibatan perempuan menjadi legislator di DPRD Provinsi Sulawesi Utara yang mencapai 15 (33,3 persen) dari jumlah keseluruhan 45 legislator. Capaian tersebut menjadikan DPRD Provinsi Sulawesi Utara secara prosentase tertinggi di antara seluruh DPRD provinsi di Indonesia. Tujuan penelitian ini: (1) mengetahui motif perempuan menjadi legislator di DPRD provinsi, (2) mengetahui komunikasi politik legislator perempuan dengan konstituennya, (3) mengetahui pemanfaatan media massa oleh legislator perempuan, dan (4) mengetahui aktivitas legislator perempuan ketika menjalankan tugas dan fungsinya di DPRD provinsi.
Metode penelitian ini menggunakan metode kualitatif fenomenologi. Informan, sebelas legislator perempuan periode 2014-2019 yang terpilih dari awal periode. Penelitian ini menggunakan Teori Fenomenologi (Afred Schutz), Teori Interaksi Simbolik (George Herbert Mead dan Herbert Blumer), Teori Konsep Diri, dan Teori Gender.
Dari hasil penelitian, peneliti menyimpulkan (1) Motif perempuan masuk menjadi legislator yaitu motif politik, motif ekonomi, motif kekuasaan, dan motif status sosial. (2) Pola komunikasi legislator perempuan dengan konstituen yaitu komunikasi formal dan komunikasi nonformal. Komunikasi formal mencakup a. Kunjungan kerja, b. Reses, c. Dialog termasuk hearing. Penelitian ini menemukan faktor penghambat sehingga aspirasi masyarakat tak terwujud yaitu keterbatasan wewenang, sistem kerja kolektif kolegial, proses, dan kepentingan partai politik/pribadi. (3) Legislator perempuan menjadikan pers sebagai sarana menciptakan opini publik. Caranya dengan membentuk kerjasama permanen dan temporer antara legislator perempuan dengan media. Kerjasama permanen melalui sekretariat DPRD Provinsi Sulawesi Utara dan fraksi, sedangkan kerjasama temporer dilakukan langsung antarpribadi legislator perempuan dengan media/wartawan. (4) Aktivitas legislator perempuan di DPRD sangat ditentukan dari kepercayaan fraksi dan kreativitasnya sendiri. Ditemukan dua tipe legislator perempuan yaitu pasif dan aktif. Ada hambatan legislator perempuan dalam melakukan komunikasi politik yaitu faktor internal (rendahnya pengetahuan, kurang terampil dalam berkomunikasi, dan rendahnya rasa percaya diri) dan faktor internal yaitu struktural dan faktor gender.

Kata kunci : legislator perempuan, motif, komunikasi politik, dan fenomenologi.

Download: File Abstrak ,