Abstrak RSS

POLA KONSUMSI PANGAN RUMAH TANGGA MISKIN DI PROVINSI JAWA BARAT: PENDEKATAN LINEAR APPROXIMATION ALMOST IDEAL DEMAND SYSTEM (LA-AIDS)

POLA KONSUMSI PANGAN RUMAH TANGGA MISKIN DI PROVINSI JAWA BARAT: PENDEKATAN LINEAR APPROXIMATION ALMOST IDEAL DEMAND SYSTEM (LA-AIDS)
In In Indah Zakiah Nurhotimah
Unpad
Indonesia
Unpad

Provinsi Jawa Barat merupakan provinsi dengan jumlah penduduk terbanyak di Indonesia. Pada tahun 2017 jumlah penduduk mencapai 48.037.827 jiwa, dengan laju pertumbuhan penduduk sebesar 1,39 Persen dan jumlah penduduk miskin mencapai 4.168.440 jiwa atau sebesar 8,71 persen. Jumlah penduduk yang cukup besar disertai dengan meningkatnya jumlah penduduk miskin mengindikasikan bertambahnya penduduk yang rawan pangan karena menurunnya daya beli terutama konsumsi makanan, sehingga penduduk Jawa Barat cenderung berpotensi menjadi rentan pangan (BPS, 2018). Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh harga dan pendapatan serta faktor-faktor sosial demografi terhadap konsumsi pangan pada rumah tangga miskin di Provinsi Jawa Barat, baik rumah tangga miskin di perkotaan maupun di perdesaan serta untuk mengetahui pengaruh perubahan harga dan pendapatan terhadap konsumsi pangan pada rumah tangga miskin di Provinsi Jawa Barat. Metode analisis yang dilakukan menggunakan model Linear Approximation Almost Ideal Demand System (LA-AIDS).
Hasil penelitian menunjukkan secara umum konsumsi pangan rumah tangga miskin di Provinsi Jawa Barat dipengaruhi oleh harga komoditas itu sendiri, harga kelompok komoditas lain, pendapatan, jumlah anggota rumah tangga, tipe wilayah (perdesaan/perkotaan), pendidikan kepala rumah tangga (rata-rata lama sekolah kepala rumah tangga) serta jenis pekerjaan kepala rumah tangga (pertanian/non pertanian). Berdasarkan hasil perhitungan nilai elastisitas harga sendiri, diketahui bahwa hampir semua kelompok komoditas pangan memiliki nilai elastisitas harga sendiri bernilai negatif dan kurang dari 1. Hal tersebut menggambarkan bahwa kenaikan harga pada masing-masing kelompok komoditas tidak banyak mempengaruhi konsumsi kelompok komoditas pangan. Elastisitas harga silang kelompok komoditas pangan menunjukkan lebih banyak hubungan komplementer dengan kelompok komoditas pangan lain daripada hubungan substitusi. Hal tersebut menunjukkan bahwa kelompok komoditas padi-padian merupakan makanan pokok bagi rumah tangga miskin di Provinsi Jawa Barat sehingga sangat sulit untuk mencari barang substitusinya. Elastisitas pengeluaran rumah tangga miskin secara keseluruhan menunjukkan hasil elastisitas pengeluaran yang bernilai positif. Artinya, semua kelompok komoditas pangan bersifat barang normal dan beberapa diantaranya termasuk ke dalam kategori barang mewah (luxury goods). Sebaiknya pemerintah membuat kebijakan untuk mengendalikan permintaan pangan melalui pengendalian harga pangan, yaitu menurunkan harga pangan agar terjadi peningkatan permintaan pangan rumah tangga.