Abstrak RSS

Kondisi Ekonomi, Sosial Dan Budaya Masyarakat Pesisir Pasca Konversi Hutan Mangrove Menjadi Lahan Tambak Di Kabupaten Pangkajene Kepulauan (Pangkep) Provinsi Sulawesi Selatan

Kondisi Ekonomi, Sosial Dan Budaya Masyarakat Pesisir Pasca Konversi Hutan Mangrove Menjadi Lahan Tambak Di Kabupaten Pangkajene Kepulauan (Pangkep) Provinsi Sulawesi Selatan
Arif Mayudin
Unpad
Indonesia
Unpad
, ,
tesis_arif_kondisi_ekonomi_sosial_buadaya_masyarakat_pesisir

Penelitian mengenai kondisi ekonomi, sosial dan budaya masyarakat pesisir pascakonversi hutan mangrove menjadi lahan tambak di Kabupaten Pangkajene Kepulauan (Pangkep) Provinsi Sulawesi Selatan telah dilaksanakan di Kecamatan Mandalle, Segeri dan Labakkang dari bulan Agustus sampai dengan September 2011. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji kondisi ekonomi, sosial dan budaya masyarakat pesisir pasca konversi hutan mangrove menjadi lahan tambak di Kecamatan Mandalle, Segeri, dan Labakkang Kabupaten Pangkep Provinsi Sulawesi Selatan. Penelitian ini menggunakan metode survey dan wawancara. Hasil penelitian menunjukkan bahwa di Kecamatan Labakkang, Segeri dan Labakkang memiliki Nilai total manfaat ekonomi mangrove sebesar Rp.14.844.084 /ha/thn atau sekitar 1,6 kali lebih besar jika bandingkan dengan nilai ekonomi tambak yang sebesar Rp.9.401.170 /ha/thn. Lahan tambak yang dibudidayakan dapat memberikan keuntungan secara finansial per hektarnya sebesar Rp. 42.122.500 dengan Pay Back Period sebesar 0,75 tahun. Pendapatan masyarakat sebulan yang berada di atas Rp. 1.000.000 sebanyak 43 orang (45,26%) atau sama dengan Upah Minimum Regional (UMR) Sulawesi Selatan Sebesar Rp. 1.000.000 / bulan. Tingkat kesejahteraan rumah tangga berdasarkan indikator BPS Tahun 2005 untuk wilayah penelitian termasuk baik dengan 55 % tergolong kesejahteraannya tinggi. Tingkat persepsi dan sikap masyarakat akan konversi hutan mangrove menjadi lahan tambak berdasarkan beberapa indikator atau penilaian di Kecamatan Labakkang, Segeri dan Mandalle dikategorikan baik. Adanya beberapa kegiatan sosial di masyarakat seperti penanaman mangrove, sosialisasi dan penyuluhan merupakan inisiasi dari pemerintah guna mempererat kehidupan sosial dari adanya perubahan perilaku di masyarakat.

Research on economic, social and cultural communities after the conversion mangrove forests into fishponds in Pangkajene (Pangkep) Province of South Sulawesi was held in sub-district Mandalle, Segeri and Labakkang from August to September 2011. This study aims to assess the economic, social and cultural rights of coastal communities after the conversion of mangroves into fishponds in sub- District of Mandalle, Segeri, and Labakkang, District of Pangkep, South Sulawesi Province. This study uses survey and interview methods. The results showed that in the District Labakkang, Segeri and Mandalle have a total value of economic benefits of mangrove Rp. 14,844,084 / ha / year or about 1.6 times higher when compared with the economic value of ponds Rp. 9,401,170 / ha / year. Land cultivated pouns can provide financial benefit per hectare of Rp. 42,122,500 with a payback period of 0.75 years. Income people a mount who is above Rp. 1,000,000 by 43 people (45.26%) or equal to the minimum wage (UMR) south Sulawesi of Rp.1,000,000 / mount. Level of household welfare indicator based on BPS on 2005 for study are include both with 55% classified ashigh welfare. Level of public perceptions and attitudes will be a conversion of mangrove forest land or fish ponds based on several indicators of assessment in district Labakkang, Segeri and Mandalle categorized either. The existence of some social activities in society and as mangrove planting, socialization and education is the initiation of the government to strengthen the social life of the behavioural changes in society.

Untuk keterangan lebih lanjut silahkan menghubungi http://cisral.unpad.ac.id