Abstrak RSS

Kajian Tentang Perjuangan Dr. Kariadi Berdasarkan Beberapa Tulisan dan Kesaksian Dalam Rangka Pengusulannya Sebagai Pahlawan Nasional

Kajian Tentang Perjuangan Dr. Kariadi Berdasarkan Beberapa Tulisan dan Kesaksian Dalam Rangka Pengusulannya Sebagai Pahlawan Nasional
Prof. Dr. Nina H. Lubis, M.S.
Universitas Padjadjaran, Pusat Penelitian Kemasyarakatan dan Kebudayaan Lembaga Penelitian Universitas Padjadjaran
Bahasa Indonesia, Bahasa Inggris
Universitas Padjadjaran, Pusat Penelitian Kemasyarakatan dan Kebudayaan Lembaga Penelitian Universitas Padjadjaran
,

Dalam perkembangan sejarah Indonesia kita dapat menemukan para pelaku sejarah yang memiliki peranan penting dalam perjuangan meraih kemerdekaan, mempertahankan kemerdekaan juga dalam mengisi kemerdekaan. Tokoh-tokoh itu tersebar di berbagai pelosok tanah air, dalam berbagai bidang: politik, pendidikan, militer, agama, budaya, ataupun ekonomi. Salah seorang di antaranya adalah dr. Kariadi. Siapakah tokoh ini? Dr. Kariadi (1904-1945), adalah Kepala Laboratorium di Rumah Sakit Pusat Rumah Sakit Rakyat (Purusara) yang pada Jaman Hindia Belanda di kenal sebagai CBZ (Centrale Burgerlijke Ziekeninrichting). Sebelumnya, dr Kariadi, lulusan N.I.A.S. di Surabaya, ditugaskan di Manokwari, kemudian di Kroya, Martapura, dan akhirnya di Semarang. Ketika proklamasi kemerdekaan dikumandangkan pada tanggal 17 Agustus 1945, Jepang harus menyerah kepada Sekutu. Namun, para pemuda kita berusaha merebut/melucuti persenjataan Jepang. Ternyata Jepang bersikukuh akan menyerahkan persenjataan mereka kepada Sekutu. Akibatnya terjadilah ketegangan, konflik, dan pertempuran. Hal inilah yang terjadi di Semarang. Pada tanggal 14 Oktober 1945, diisukan bahwa Jepang telah meracuni sumber air minum warga Kota Semarang. Dr. Kariadi yang merasa terpanggil untuk menyelamatkan warga Semarang, segera berusaha untuk meneliti kebenaran isu itu. Dalam keadaan yang sangat berbahaya, dr. Kariadi menerobos menuju ke Reservoir Siranda, di tengah desingan peluru. Di tengah perjalanan ia dicegat pasukan Jepang dan dibunuh secara keji. Ia gugur bersama seorang Tentara Pelajar yang menyopiri mobil yang ia tumpangi. Gugurnya dr. Kariadi memicu kemarahan rakyat, yang sejak beberapa hari sebelumnya terlibat konflik dengan pasukan Jepang yang tidak mau dilucuti. Akibatnya terjadilah pertempuran 5 Hari di Semarang, yang memakan korban rakyat sebanyak 2000 orang.

Download: .Full Papers