Abstrak RSS

Keterkaitan Konsep Konseling Dengan Aspek-aspek Psikologis

Keterkaitan Konsep Konseling Dengan Aspek-aspek Psikologis
Nurul Wardhani, S.Psi., M.Pd.
Unpad
Indonesia
Unpad
, , ,

Tulisan ini akan diawali oleh paparan mengenai pengalaman penulis dalam observasi lapangan terhadap profesi konselor di SMU Swasta di Bandung, dengan tujuan mengamati persoalan-persoalan yang ada terkait dengan profesi konselor.

Fenomena yang menarik, saat itu beberapa siswa datang ke kantor BK (Bimbingan dan Konseling) dengan tampilan yang bermacam-macam. Satu orang rambutnya basah dan agak berwarna merah karena menggunakan jelly dan sedikit dicat rambut. Satu orang lagi menggunakan jaket kulit, siswa ketiga tampil agak kusut dan lusuh. Mereka datang ke kantor BK pada jam istirahat karena dipanggil oleh petugas BK yang “lulusan BK”. Setelah duduk mulailah terjadi pembicaraan dengan petugas BK. Pembicaraan diawali oleh pertanyaan seputar “mengapa menggunakan jaket, mengapa menggunakan cat rambut dan jelly di sekolah dan mengapa raportnya turun drastis”. Di tengah pembicaraan selanjutnya hadir petugas BK lain dan turut ‘urun rembug’ dalam arena ‘konseling’. Pertanyaanpertanyaan dilontarkan secara interogatif dan penuh celaan, pembicaraan hampir didominasi oleh petugas BK. Sedikit sekali kesempatan bagi para siswa untuk berbicara mengemukakan pendapatnya. Para siswa hanya tampak duduk tertunduk saja seolah ‘mendengarkan’, dan sekali-sekali tersenyum kecut. Pembicaraan diakhiri dengan perintah menandatangani berita acara dan surat perjanjian tidak akan mengulangi perilaku tersebut.

Download: pdf